SVARGA (dan secuil kisah di baliknya)


Sekitar bulan April tahun 2011 seorang teman baru yang saya kenal di Orkestra Komunitas Sekolah Al-Izhar meminta saya mengerjakan aransemen untuk lagu yang baru diciptakannya saat itu. Lagu itu akan dimainkan di suatu konser bertajuk “Tentang Perempuan” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, dengan Ananda Sukarlan pada piano, Mesty Ariotedjo-si pencipta lagu-pada harpa, didukung oleh 4 orang musisi ensembel gesek dan flute. Lagu yang berjudul “Lukis Indah Mimpi” itu dinyanyikan oleh Ririn, salah seorang sahabat Mesty yang suaranya amat menarik hati, dan menjadi sorotan dalam konser yang sangat inspiratif tersebut!

Beberapa bulan setelah konser itu berlalu, gantian saya yang meminta Mesty untuk ikut bermain harpa di konser “Di Badai Topan Dunia” yang sangat sukses di 20 Agustus 2011. Setelah kemudian beristirahat sejenak selama minggu-minggu setelahnya, ada tawaran lain yang muncul untuk memainkan kembali lagu “Lukis Indah Mimpi” di acara suatu organisasi pemuda di Monas. Tawaran itu entah bagaimana prosesnya ternyata lalu berevolusi menjadi suatu ajakan untuk membentuk sebuah trio yang terdiri dari ketiga musisi idealis ini, Mesty, Ririn dan saya sendiri.

Diskusi berlangsung di sebuah restoran sushi, dan disepakati bersama bahwa misi grup ini adalah untuk menyebarkan pesan positif kepada sebanyak mungkin pendengar, juga pesan cinta tanah air kepada generasi muda Indonesia. Karenanya dibutuhkan suatu nama yang representatif, dan kami memilih kata dari bahasa Sanskerta ini, Svarga.

Sebagaimana terdengarnya, Svarga (dibaca swarga) berarti surga, yakni tempat di mana hal-hal yang bernilai positif berkumpul. Saya sendiri secara pribadi meyakini bahwa surga itu harus bisa dirasakan di dunia ini, dan kita lah masing-masing yang bisa membuat itu terwujud melalui kehadiran kita di tengah-tengah orang lain.

Hal-hal positif itulah yang saya sampaikan melalui aransemen-aransemen saya di grup ini, dan ternyata tiap proses latihan dan penampilan kami pun dipenuhi dengan kepositifan batin kami!

Beberapa minggu lalu kami sepakat untuk membuat dokumentasi beberapa lagu yang pernah kami mainkan, dan berikut ini adalah interpretasi kami akan karya “Gilang Indonesia Gemilang” oleh Guruh Soekarno Putra. Semoga inspiratif bagi teman-teman sekalian!

Manggung di Singapura (lagi)!!


Terima kasih teman-teman yang telah mendukung Andre Harihandoyo and Sonic People dalam pengumpulan suara Yahoo! Indonesia sehingga kami mendapat kesempatan untuk tampil mewakili Indonesia pada festival Rock and Roots di Singapura pada 31 Maret 2012 kemarin.

AHSP di http://www.rockandroots.com.sg/

Kesempatan tersebut bukan hanya berupa kesempatan untuk bermain di negeri orang saja, namun yang jauh lebih berharga adalah kesempatan untuk bisa berada dalam ruang belakang panggung yang sama dengan para musisi legendaris semacam Buddy Guy, Keb’ Mo’, juga Earth, Wind and Fire!! Berada di sana dan bisa menikmati kesempatan itu menjadi salah satu penanda kenaikan tingkat kami sebagai sebuah band, dan itu semua berkat dukungan teman-teman sekalian!

dengan Keb' Mo' di belakang panggung

Persiapan Konser Di Badai Topan Dunia


Poster konser "Di Badai Topan Dunia"

Beberapa bulan terakhir ini persiapan konser Di Badai Topan Dunia telah berhasil membuat saya kurang tidur dan sedikit sakit pinggang rupanya. Keterlibatan banyak pihak dari awal terlontarnya ide untuk meneruskan kedua seri konser GKI Gading Indah dua tahun lalu memang makin membuat saya ngeh bahwa musik benar-benar memiliki kekuatan untuk menyatukan energi begitu banyak orang untuk mencapai tujuan bersama.

Kebetulan program konser kali ini dikolaborasikan dengan program pengumpulan dana untuk pembangunan sebuah klinik kesehatan di GKI Gading Indah yang akan terbuka untuk umum dengan biaya yang amat terjangkau bagi masyarakat sekitar. Saya dan teman-teman panitia sangat bersemangat menyambut ide ini, walau pada kenyataannya dalam perjalanan kami mendekati hari konser kami menghadapi badai demi badai yang makin besar. Ya, makin besar suatu persiapan acara dan makin banyak pihak yang terlibat di dalamnya, makin besar pula tantangan yang dihadapi setiap unsur tersebut, mulai dari lempar-melempar tanggung jawab yang biasanya terjadi secara tidak sengaja namun kelamaan bola salju itu makin membesar menjadi konflik-konflik yang untungnya dapat dengan sigap segera diatasi bersama. Belum lagi sedikit masalah mengenai penyewaan tempat konser untuk keperluan gladi resik yang berbentrokan dengan acara lain di tempat yang sama memaksa kami untuk segera menyesuaikan diri dengan perubahan yang tiba-tiba tersebut.

Ya, kami sangat beruntung memiliki Adam Natanael sebagai ketua panitia yang bersedia direpoti oleh para panitia dan musisi yang jumlah totalnya ratusan ini. Beliau pun akhirnya secara sedikit terpaksa harus bersedia menjadi pembawa acara di hari konser.

Terlepas dari itu, kedatangan teman-teman musisi dari GKI Kebon Jati, Bandung, amat mencairkan suasana. Persahabatan dengan mereka memang sudah dimulai dari tahun sebelumnya, ketika mereka ikut bermain di Malam Hymne GKI Gading Indah, diikuti dengan kedatangan balasan kami melayani di gereja mereka di Bandung, kedua acara tersebut mengkolaborasikan para musisi dari kedua ensembel ini. Ah, semoga ada kolaborasi-kolaborasi selanjutnya dengan teman-teman ensembel lainnya di lain kesempatan!

suasana gladi resik konser, foto diambil oleh harpis Mesty Ariotedjo

Oya, Andrew Putra Zaluchu baru saja membuat video trailer untuk konser ini, yang bisa ditonton di sini:

Sampai jumpa di ruang konser minggu depan!

Sesi Rekaman Orkestra di ArtSound dan Pendulum


Sesi Rekaman Orkestra di ArtSound dan Pendulum

Senin kemarin Andreas Arianto Orchestra baru saja menyelesaikan rekaman 2 lagu selanjutnya untuk cover version dari Dream Theater dengan orkestra. Sesi rekaman kali ini cukup unik karena kami hanya merekam ensembel yang terdiri dari 8 orang pemain yang sangat handal, dan kami melakukan perekamannya 3 kali berturut-turut untuk menghasilkan sound yang tebal seperti yang diinginkan, seperti layaknya rekaman profesional pula. Namun yang unik adalah kami tidak melakukan perekaman per suara dari masing-masing pembagian 4 suara (biola 1, biola 2, viola dan cello) karena yang ingin dicapai adalah kesatuan sound dari ensembel 8 orang tersebut.


sesi rekaman di ArtSound Studio, Kelapa Gading

Ini adalah kedua kalinya saya melakukan rekaman di studio yang mewah ini. Minggu sebelumnya saya merekam akordeon dan piano untuk aransemen yang saya tulis atas 2 lagu rakyat, dipesan oleh Addie MS untuk album The Sounds of Indonesia – Garuda Indonesia di studio yang sama.

The Sounds of Indonesia album, Garuda Indonesia

Permainan piano Nicodemus Indra Kusuma benar-benar sangat ajaib saat itu, sehingga benar-benar bisa menaikkan mood saya dalam memainkan akordeon segera setelahnya. Studio ini tidak hanya benar-benar tertata sangat rapi, tapi juga mencengangkan semua pasang mata yang berkunjung ke dalamnya! Belum lagi bila melihat peralatan dan perlengkapan yang tersedia di dalamnya benar-benar memungkinkan kita untuk menghasilkan kualitas rekaman yang prima untuk jenis musik yang membutuhkan kejernihan suara dalam proses perekamannya.

Sesi rekaman akordeon di ArtSound Studio, Kelapa Gading, Jakarta

Ini adalah sesi rekaman orkestra kami yang kedua dengan proyek Dave Salamander. Di minggu sebelumnya kami melakukan perekaman di studio Pendulum, Kebayoran. Kedua hasil rekaman ini memang sedikit berbeda, namun kami sulit untuk memilih yang mana yang lebih baik karena masing-masing menghasilkan sound yang sama-sama kami sukai untuk jenis lagu yang berbeda. Yang pasti mood semua orang terjaga dengan baik di kedua studio ini. Hanya saja waktu itu jumlah headphone di Pendulum kurang banyak untuk memungkinkan saya memimpin ensembel di dalam ruang rekam. Namun hal ini bisa diatasi lain kali dengan membawa sendiri headphone sejumlah yang diperlukan.


sesi rekaman di Pendulum Studio, Kebayoran

Bekerja dengan Wolf Arndt pada proyek Dave Salamander ini memberikan saya banyak sekali wawasan baru, tidak hanya dalam segi teknis perekaman orkestra, namun juga mengenai sisi-sisi penulisan aransemen yang efektif dan efisien untuk orkestra yang dipadukan dengan band rock. Terkadang kita menginginkan untuk memasukkan sebanyak mungkin elemen yang menarik yang bisa ditonjolkan oleh orkestra. Namun seringkali dibutuhkan sedikit kejelian dalam melihat konteks dari keseluruhan konsep lagu tersebut, sehingga tidak semua part yang kita tulis bertabrakan dengan pengisian instrumen-instrumen lainnya seperti gitar, kibor, bas, drum, juga vokal latar dan vokal utama. Pengalaman Wolf Arndt yang sudah belasan tahun terlibat dalam pembuatan album banyak musisi terkemuka Indonesia (Dewa 19, Slank, Anang, Kla Project, Netral) benar-benar tertransfer sedikit demi sedikit kepada saya selama berminggu-minggu bekerja dengan beliau. Namun memang proyek orkestra ini adalah proyek yang unik dan amat berharga bagi masing-masing dari kami.


Proyek Dave Salamander: Bambang Wahyudi, Andreas Arianto, Wolf Arndt